Sejak dibukanya kran visa waiver bagi pemegang paspor Indonesia untuk masuk ke Jepang, jumlah wisatawan yang datang berlibur ke negeri sakura ini secara kasat memang terlihat. Tidak jarang ketika antri di stasiun keeeta atau jalan di kompleks pertokoan Shinsaibashi Osaka, saya menjumpai rombongan orang Indonesia yang sedang bergerombol megang peta mencari alamat.

Hal ini tentu saja sebuah hal yang menyenangkan bagi pemerintah Jepang karena mendapatkan devisa dari negara kita. Tapi, ada kemungkinan hal itu tidak akan berlangsung lama karena meningkatnya jumlah overstay atau penduduk ilegal yang ditengarai sebagai akibat dari penyalahgunaan visa kunjungan tersebut.

Dari data yang dirilis oleh pemerintah Jepang pada bulan Maret 2016, jumlah penduduk ilegal asal Indonesia meningkat 77.1%, dengan total 2226 orang. Untungnya jumlah ini menurun secara drastis menjadi minus 0.3 atau menjadi 2222 orang pada Januari 2017 lalu.

Di satu sisi, pemerintah Jepang berusaha meningkatkan jumlah pengunjung wisatawan dari Indonesia dengan memindahkan pusat pengurusan visa yang tadinya di kedutaan besar Jepang Jalan Thamrin berpindah ke Kota Kasablanka. Tapi di sisi lain, pemerintah Jepang belakangan ini malah mempersulit proses perpanjangan visa bagi orang Indonesia yang bermukim di dalam negeri Jepang.

Hal ini dialami oleh seorang mahasiswa di daerah Kanto (Jepang Timur) yang kita sebut saja AD. Menurut pengakuan AD, saat ingin meperpanjang visa pelajarnya, pihak imigrasi meminta agar profesor menjadi penjamin dan dimintai fotokopi rekening bank selama 6 bulan terakhir. Padahal kalau menurut pengalaman selama ini, kalau hanya perpanjang maka cenderung mudah dan tidak bertele-tele.

Untuk menjaga agar fasilitas bebas visa berlaku bagi orang Indonesia, dibutuhkan kerjasama semua pihak, terutama penyelenggara perjalanan atau wisata ke Jepang. Biasanya, para oportunis yang menggunakan visa wisata lalu melarikan diri dan menjadi pekerja ilegal di Jepang adalah kalangan muda yang bepergian sendiri atau bepergian bersama teman-teman dengan usia yang kurang lebih sama. Bagi yang belum pernah ke Jepang, biasanya mereka ditemani oleh seorang broker yang bisa saja bepergian bersama saat itu, atau janjian untuk bertemu setelah mereka memasuki Jepang.

 

 

Last update on September 20, 06:03:17 by Kurniawan.