Kepiting adalah binatang yang masih menjadi kontroversi seputar kehalalannya. Masih banyak masyarakat yang menolak mengkonsumsi binatang ini karena diyakini haram. Sementara menu seafood yang satu ini memang terkenal lezat dan amat mengundang selera. Hidangan berbahan dasar kepiting pun banyak di jual mulai dari warung-warung tenda pinggir jalan hingga sampai di restoran-restoran terkemuka.

Mengapa kepiting mash diragukan kehalalannya ? karena masih ada yang berpendapat bahwa kepiting adalah hewan yang hidup di dua alam yakni di darat dan laut/air. Sebagian orang yang berpendapat bahwa kepiting itu haram melandaskan pemikirannya kepada hadits –hadits sebagai berikut :

(ومايعيش) دائما (في بَرٍّ وبحر كضِفْدعٍ) … (وسَرَطانٍ) ويسمي عقرب الماء ونسناس (وحية) … حرامٌ) لاستخباثه وضرره …

Hewan yang bisa hidup di darat dan laut, seperti kodok, kepiting, dan ular hukumnya haram dengan alasan kotor dan membawa bahaya… (h. 151 – 152)

Pendapat serupa disampaikan oleh Syeikh Muhammad Al-Khathib Al-Syarbaini dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Al-Minhaj, sbb:

(ومايعيش في بَرٍّ وبحر: كضِفْدعٍ وسَرَطانٍ [ويسمي أيضا عقرب الماء] وحية حرامٌ) للسمية في الحية والعقرب وللاستخباث في غيرهما.


Binatang yang hidup di darat dan laut, seperti kodok, kepiting (disebut juga laba-laba/kalajengking air), dan ular haram hukumnya, dengan alasan mempunyai bisa bagi haramnya ular dan kalajengking, dan jorok bagi selain keduanya (h. 298).

Namun ternyata menurut hasil penelitian oleh ahli-ahli perikanan, Kepiting bukanlah termasuk hewan yang hidup di dua alam. Kepiting murni hidup di laut.

Ada tiga patokan untuk menyatakan halal atau haramnya makanan. Pertama, ada dalil berupa nash (Al-Quran atau hadis) yang menyatakan makanan itu halal. Kedua, ada nash yang menyatakan haram. Ketiga, tidak ada nash yang menyatakan haram atau halal. Makanan yang dinyatakan halal oleh nash, antara lain, binatang laut. Semua jenis binatang laut hukumnya halal kecuali yang mengandung racun dan membahayakan jasmani rohani .

Hal ini seperti diungkapkan oleh Ketua Fatwa MUI Jawa Barat, Salim Umar kepada penulis Kamis (20/08).

Salim menjelaskan bahwa menurut ahli-ahli perikanan, Kepiting yang ada di darat bisa bertahan hidup karena membawa kantung air di dalam batok tempurungnya, oleh karenanya ia tidak bisa hidup lama-lama di darat. Jika air bawaannya tersebut habis maka ia akan mati.

“Itu sebabnya kepiting tidak masuk kategori binatang yang hidup di dunia alam, karena lama kelamaan kepiting akan mati jika air cadangannya habis.

Lebih lanjut Salim menjelaskan bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa halal bagi kepiting pada tahun 2002 yang lalu. Fatwa tersebut menyebutkan bahwa Kepiting adalah halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.

“Karena itu, apa-apa yang telah dihalalkan Allah jangan lah diharamkan oleh manusia”. Kata Salim lagi.

Merujuk Al-Quran surah Al-Maidah ayat 96: "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut, sebagai makanan yang lezat bagimu ..." Hadis riwayat Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, "Laut itu airnya suci dan bangkainya halal." Sedangkan makanan yang ditetapkan haram oleh nash antara lain bangkai, darah, dan daging babi (Al-Maidah ayat 3). Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal mengecualikan, ada dua bangkai (ikan dan belalang) dan dua darah (hati dan limfa) yang halal.

Ada lagi makanan yang dinyatakan haram berdasarkan hadis. Misalnya, hadis riwayat Muslim melansir pernyataan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring dan jenis burung yang bercakar tajam. Bagaimana dengan makanan yang didiamkan nash: tidak diharamkan dan tidak dihalalkan? Hasanuddin mengacu pada kaidah bahwa hukum dasar segala sesuatu adalah halal, selama tidak ada nash yang mengharamkan.

Kaidah itu disarikan dari surah Al-Baqarah ayat 29, "Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi ini untuk kalian semua." Serta dari hadis riwayat Ibnu Majah dan Turmuzi, "Halal adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, haram adalah yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, sedangkan apa yang tidak dinyatakan halal atau haram, maka itu termasuk yang dimaafkan untuk kalian makan." Di sinilah hukum kepiting ditempatkan.

Sementara itu walau masih banyak kontroversi seputar halal haramnya kepiting, namun sangat banyak makanan berbahan dasar kepiting ini yang dijual mulai dari warung tenda hingga ke hotel dan restaurant berbintang.

Seperti yang dipantau oleh penulis di warung tenda daerah Suka Asih, Cicaheum. Warung tenda yang menu utamanya adalah hidangan seafood itu sangat ramai dikunjungi pembeli dan kebanyakan menu yang menjadi favorit disana adalah Kepiting Saus Padang. Menurut Dani, penjualnya, jumlah kepiting yang habis terjual setiap harinya ada lebih dari 10 kg dan ini bisa bertambah saat pembeli makin ramai.

( Lygianostalina )

Postingan anggota grup FB Neng Hujan 24 Agustus 2009