Setengah Abad yang Indah

Di hari minggu yang sama setengah abad yang lalu, kita duduk bersanding dengan penuh bahagia di aula Hotel Negara Makassar yang pada waktu itu cukup terpandang. Sekarang sudah bubar itu hotel.

Setelah paginya akad nikah di rumah, yang dipenuhi para keluarga. Itu hari terindah dalam hidupku.

Aku pertama kali melihatmu waktu kita di SMA. Kita bersebelahan kelas, Karena kau adik kelasku. Aku terpesona dengan kesederhanaanmu, walaupun kau sempat tak peduli padaku.

Aku menyukaimu pada detik pertama aku melihatmu.

Tujuh tahun lamanya aku berusaha mendekati dan meyakinkanmu, 7 tahun lamanya. Tapi engkau seperti jinak jinak merpati. Sama dengan nama jalan di depan rumahmu,, Jalan Merpati Nomor 4.

Antara mau dan tidak, sering membingungkan tidak jelas. Aku bersabar berjuang dengan waktu.

Namanya pacaran tapi kurang asyik seperti teman-teman saya yang lain. Ke mana-mana kamu dikawal oleh adik-adikmu kayak Paspampres saja.

Walaupun aku punya vespa, tapi engkau tidak pernah mau dibonceng. Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop. Itupun dengan teman temanmu, sehingga untuk bisa memegang tanganmu saja, sangat sulit. Tapi kutahu hal yang sulit biasanya berakhir manis.

Akar budaya kita memang berbeda, antara Bugis dan Minang. Orang tuamu kadang-kadang was-was dan khawatir karena engkau anak perempuan satu satunya. 8 Adiknya laki-laki semua.

Orang tuaku begitu pula sering salah mengerti adat Minang. Kenapa paman dan perempuan lebih banyak menentukan. perbedaan yang nyaris menjauhkan kita.

Kalau ke rumahmu harus siap untuk sabar mendengar petuah dari bapakmu dengan suara yang pelan. Seperti guru menasihati muridnya, karena memang bapak dan ibumu juga guru. Aku ingin menemuimu tapi bapakmu menyembunyikanmu. Kamu baru dipanggil ke luar kalau saya permisi pulang. Sebenarnya itu termasuk perilaku yang kejam. Karena itu aku mengubah cara, datang ke rumahmu sore hari sebelum magrib. Begitu magrib aku berdiri azan dengan fasih. Terpaksa kamu Keluar salat berjamaah yang diimami oleh bapakmu. Ini juga penting biar bapakmu tahu aku juga rajin shalat.

Setelah tamat SMA kau bekerja di BNI, sambil kuliah sore di UMI (Universitas Muslim Indonesia). Sambil kuliah aku juga bekerja di kantor bapakku, agar bisa sering ke bank menyetor tabunganku. Sekali seminggu aku minta menjadi asisten dosen dan mengajar di kelasmu tanpa honor. Semua itu agar aku bisa bertemu denganmu dan melihat senyummu.

Berat sekali perjuanganku, tapi demi menatap mata beningmu ku jalani semua. Akhirnya kau dan bapakmu luluh juga. Ayahku pun akhirnya memahami perbedaan adat kita, setelah ibu kul dan sahabatnnya memberi nasihat, mungkin juga setelah membaca buku Hamka, “tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”.

Saat orang tuaku melamarmu untuk jadi istriku, aku melihat cakrawala tersenyum, perjuangan cinta bertahun tahun yang berbuah manis.

Setelah kita menikah aku menjalankan perusahaan ayahku. Kau sekretaris, merangkap keuangan karena kita belum bisa mengangkat pegawai tambahan.

Di samping mengasuh anak juga mengurus rumah dengan baik. Lima anak kita kau asuh sendiri tanpa barisan suster seperti cucu kita sekarang. Kau bagaikan wonder women untukku.

Selama 50 tahun kau chef terbaik yang ku kenal, karenanya jarang sekali kita makan di restoran. Di kantor pun setiap hari kau kirim rantangan, sampai sekarang. Teman teman selalu menunggu apa yang akan kau hidangkan. Kau tahu cintamu terus mengitariku karena hidangan enak yang kau buat.

50 Tahun kita jalani, 33 tahun di Makassar dan 17 tahun di Jakarta. Sungguh suatu perjalanan yang panjang. Kita jalani hidup tanpa mengubah cara, kita tidak berubah kecuali di jalan tidak pernah macet. Karena banyak polisi.

Aku suka kesederhanaanmu sejak pertama aku melihatmu dan sekarang kesederhanaanmu adalah cahaya yang terindah. Secara ekonomi, gaji pejabat negara tidak besar, termasuk bapak Jokowi juga tidak besar. Lebih besar hasil usahamu yang macam macam. Dari menanam bunga sampai tambak udang yang kau urus dari meja riasmu sambil menelepon. Mungkin perpaduan semangat budaya Minang dan Bugis yang kau alami.

Kau perempuan hebat istriku, dalam aura kesederhanaanmu tersimpan energi yang dahsyat.

Orang bugis tak fasih berkata kata indah. Kecintaannya ditunjukkan dari perilaku, bahasa tubuh, dan senyumnya. Untuk romantic pun aku tak pandai ucapkan dengan kata-kata. Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah memberi bunga sambil mengucapkan “i love you”.