Pada ngeributin becak ya? Pada mau ikut training ya? Saya mah nggak ikut-ikutan. Tapi mohon perkenankanlah saya untuk ikutan "gatel" cerita tentang becak. Karena seorang sejarawan itu berhak untuk "cerewet" dan ngulik sejarah becak di Nusantara. Dan momentum hubungan diplomatik Jepang-Indonesia 60 tahun di tahun ini. 

Judul ngawur dan biar keren saya karang begini:

Beyond 60th Diplomatic Japan-Indonesia Relations : From Jinrikisha to Tiga Roda

Menurut beberapa sumber, becak pertama kali ditemukan di Tokyo, Jepang pada awal masa Meiji (1870). Dari beberapa sumber Jepang, sebutlah nama-nama Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke (https://taiken.co/single/a-history-of-the-rickshaw).

Meski di sumber  lain ada yang menyebutkan becak atau jinrikisha (人力車)salah satu penemu rickshaw ini oleh seorang misionari berkebangsaan Amerika   yang tinggal di Yokohama, Jonathan Goble. Yang jelas, pada tahun 1870-an transportasi jinriskisha alias becak ini berkembang dan terdaftar 40.000 di Tokyo. Dunia mengakui bahwa Becak ditemukan di Jepang, siapa pun namanya yang menjadi penemunya. Salah satu becak disimpan di museum Museum of Applied Arts & Sciences di Sydney (https://maas.museum/inside-the-collection/2012/11/19/japanese-rickshaw/).

Setelah itu becak atau rickshaw dengan berbagai model populer dan menyebar ke seluruh dunia. Termasuk ke Cina, India, dan negara-negara Asia lainnya. 

Bagaimana dengan di Indonesia? Sayang sekali tidak ada penelitian khusus mengenai sejarah becak di Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa becak dibawa oleh imigran Cina masuk ke Batavia (saya nggak punya sumbernya). Tapi ada 

satu sumber yang lumayan kuat (dan mungkin satu-satunya) bahwa becak di Indonesia diciptakan oleh orang Jepang. Sejarah ini saya singgung sedikit dalam disertasi saya (ehem, promo apa narsis nggak tahu saya). Jadi bisa saya klaim sedikit, "Becak kemungkinan besar diciptakan oleh orang Jepang di Makassar pada akhir tahun 1930-an" (Meta, 2017).

Seorang jurnalis Jepang bernama Tamaki Shibukawa menulis sekilas tentang becak dalam bukunya yang berjudul Ran’in tōhakō : kamera to pen yang diterbitkan tahun 1941. Ia menulis bahwa seorang warga Jepang, yang merupakan salah satu komunitas "toko Jepang" dari Wakayama bernama Seito-san. Seito-san inilah yang menciptakan becak yang saat itu disebutkan oleh Shibukawa dinamakan sebagai Tiga Roda. Sebenarnya Seito-san pusing karena ekstra supply sepeda di tokonya. Agar sepeda-sepeda itu terjual, maka dicarikan akal untuk menjadikannya tiga roda. Dan apa yang terjadi, tiga roda menjadi populer di Makassar. Kendaraan transportasi ini konon ada 4000 yang beroperasi di Makassar. 

Kemungkinan besar sumber itu cukup valid. Karena, di koleksi foto-foto KITLV (dari KITLV) media, pada akhir tahun 1930-an, foto-foto becak banyak ditemukan di Makassar. Foto-foto itu sangat menarik, dan menunjukkan desain orisinal becak di Makassar, yang sebagian agak mirip dengan becak jaman now di Makassar. Masih menurut Shibukawa lagi, popularitas becak ini dengan cepat menyebar. Bahkan pada akhir tahun 1930-an, becak ini kemudian masuk di Batavia, alias Jakarta. Konon, pada awal tahun 1940-an, baru muncul foto-foto (film) becak yang beroperasi di Batavia. 

Nah, sampai sekarang, Jepang masih melestarikan becak alias jinrikisha. Beberapa tempat-tempat khusus, terutama di wilayah turis, jinrikisha beroperasi, yang pada umumnya untuk melayani turis-turis, baik dalam negeri atau luar negeri. Tapi jangan salah, mas-mas atau mbak-mbak yang menarik jinrikisha itu pada umumnya cukup keren-keren berotot, dan kadang mereka mampu berbahasa Inggris. 

Saya pernah melihat di acara TV di Jepang, mas-mas dan mbak-mbak ini ditraining secara khusus. Bahkan, mereka juga diberikan lisensi untuk menarik jinrikisha itu. Tapi sejauh pengamatan dan pengetahuan saya, jinrikisha ini dioperasikan dengan cara elegan, sekaligus mempertahankan pusaka budaya Jepang. Dan tidak mudah menjadi penarik jinrikisha di Jepang. Selain mereka harus kuat secara fisik (berat lho narik jinrikisha itu). Penampilan mereka harus ok, karena biasanya mereka menarik hati mbak-mbak turis Jepang yang lewat.

Nah, saya mulai paham. Ada kemungkinan wacana training untuk penarik becak itu, mungkin mengacu pelatihan jinrikisha di Jepang. Saya mah, mendorong untuk pelestarian sejarah-budaya Indonesia, terutama dampak sejarah masyarakat Jepang di Indonesia. 

Saya sih mah nggak keberatan kalau nanti dipilih sebagai penerjemah training penarik becak di Tokyo nanti. Eh, ya siapa tahu ditraktir sama mas-mas keren penarik jinrikisha keliling Yokohama atau Kyoto. 

"Mbak becake mbak...."" Sepi mbak, becake."

Wah, ngapain juga ya. Pagi-pagi begini serius begini ya?

 

Dikutip dari FB Meta Sekar Puji Astuti